Selamat Datang di Website Puskesmas Seririt I

Papan Nama Puskesmas

Memberikan pelayanan optimal, dengan motto : Senyum, Edukasi, Harmonis, .Aman, Taat, dan Indah

Halaman Puskesmas

Halaman depan Puskesmas yang cukup luas, dapat digunakan untuk tempat parkit pasien dan petugas.

Staff Puskesmas

Staff Puskesmas yang bekerja baik di pelayanan maupun operasional.

UGD Puskesmas

Suasana UGD saat pelayanan kesehatan.

Rapat Bulanan

Rapat rutin setiap bulan, bersama seluruh staff puskesmas, membahas semua permasalahan yang ada di Puskesmas.

Tampilkan postingan dengan label Program Pengembangan. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Program Pengembangan. Tampilkan semua postingan

Rabu, 28 November 2012

Rabies Center


Rabies adalah penyakit infeksi akut yang menyerang susunan saraf pusat, menyerang hewan berdarah panas dan manusia. disebabkan oleh virus rabies (rhabdovirus), biasanya selalu diakhiri dengan kematian

Sasaran program

  1. Menurunkan angka kematian pada manusia hingga nol
  2. Meningkatkan cakupan post-eksposure treatment kepada kasus gigitan berisiko tinggi terhadap rabies
  3. Meningkatkan pengetahuan masyarakat terhadap rabies

Penanganan luka gigitan HPR

  1. pencucian luka gigitan dengan sabun/deterjen dibawah air mengalir selama 10-15 menit dilakukan berulang-ulang dan diberi antiseptis
  2. tidak dibenarkan menjahit luka, bila terpaksa dengan jahitan situasi perlu diberi SAR infiltrasi sekitar luka gigitan
  3. pemberian pengobatan pasteur (post exposure treatment) sesuai dengan protap
  4. pemberian obat lain: antibiotik, ATS dll bila diperlukan (simptomatis)

Investigasi sebelum pemberian VAR atau SAR

  1. kontak/jilatan/gigitan
  2. kejadiannya didaerah tertular atau bebas
  3. apakah didahului tindakan provokatif
  4. hewan yang menggigit ditangkap?
  5. apakah penderita pernah dapat VAR
  6. hewannya apakah divaksin?

Identifikasi lokasi luka gigitan

  1. apakah lukanya risiko tinggi
  2. luka pada mukosa
  3. luka didaerah atas bahu (muka, kepala, leher)
  4. luka pada jari tangan dan kaki
  5. luka pada genitalia
  6. luka multipel (banyak tempat)

untuk luka didaerah risiko rendah diberi VAR
untuk luka didaerah risiko tinggi beri kombinasi VAR dan SAR
kontak saliva dengan daerah yang tidak ada luka tidak perlu diberi VAR atau SAR

Pemberian VAR

  • Purified Vero Rabies Vaccin (PVRV) : vaksin kering dalam vial dan pelarut 0,5 ml.dosis dewasa dan anak-anak sama 0,5 ml metode 2-1-1 (4 kali pemberian):
  • hari 0 : 2 kali pemberian deltoid kanan kiri IM
  • hari 7 dan hari 21 pemberian 1x deltoid kanan atau kiri IM

catatan: kalau penderita mendapatkan SAR diulang VAR 0,5 ml hari ke 90

Pemberian SAR

  • Serum homolog kemasan 1 vial 2 ml (1 ml=150 IU) dengan dosis 20 IU/kgBB disuntikan infiltrasi disekitar luka sebanyak mungkin dan sisanya IM, diberikan bersamaan dengan VAR, sebelumnya tidak dilakukan skin test
  • Serum heterolog (kuda) kemasan 1 vial 20 ml (1 ml= 100 IU). dengan dosis 40 IU/kgBB disuntikkan infiltrasi disekitar luka sebanyak mungkin dan sisanya IM, diberikan bersamaan dengan VAR, sebelumnya dilakukan skin test.

Alur penanganan kasus gigitan hewan



Program THT

Telah diketahui bahwa gangguan pendengaran ( hearing impairment) atau ketulian (deafness) mempunyai dampak yang merugikan bagi penderita, keluarga, masyarakat maupun Negara.
Penderita akan mengalami kesulitan dalam berkomunikasi dengan lingkungannya, terisolasi. Kehilangan kesempatan dalam aktualisasi diri, mengikuti pendidikan formal di sekolah umum, kehilangan kesempatan memperoleh pekerjaan; yang pada akhirnya berakibat pada rendahnya kualitas hidup yang bersangkutan.

Kesulitan kesulitan tersebut diatas akan bertambah besar di negara berkembang mengingat masih terbatasnya infrastruktur kesehatan telinga dan pendengaran dalam melakukan pencegahan, deteksi dini, penatalaksanaan dan habilitas/ rehabilitasi.

Pertemuan WHO (Geneve, 2000) menyatakan bahwa 50 % gangguan pendengaran dapat dicegah (Preventable deafness) melalui kegiatan Primary Health Centre (PUSKESMAS).
Adapun faktor faktor penyebab gangguan pendengaran yang dapat dicegah adalah :

  1. OMSK ( Otitis Media Supuratif Kronis)
  2. Pemaparan bising
  3. Pemakaian obat ototoksik
  4. Infeksi selaput otak ( meningitis)
  5. Pernikahan antar keluarga

Mencegah kecacatan yang ditimbulkan akibat penyakit telinga dan gangguan pendengaran yang sering ditemukan pada masyarakat setempat dengan melaksanakan pencegahan terhadap penyakit telinga dibawah ini :

  1. OMSK
  2. Tuli sejak lahir ( kongenital ).
  3. Pemaparan bising (NIHL).
  4. Presbikusis.

Keempat penyakit telinga tsb diatas telah ditetapkan oleh WHO SEARO sebagai prioritas penanggulangan di Indonesia.

Pemeriksaan telinga pada siswa SMP

Program Kesehatan Jiwa


Masalah kesehatan jiwa memiliki ruang lingkup yang luas dan menimbulkan beban yang besar bagi masyarakat. Terdapat beragam gangguan kejiwaan yang sesungguhnya dialami oleh masyarakat, bukan hanya gangguan psikotik, namun terutama gangguan cemas, depresi dan gangguan jiwa yang tampil dalam bentuk berbagai keluhan fisik.

Untuk memperluas jangkauan pelayanan kesehatan jiwa yang memadai agar tercapai pelayanan kepada seluruh lapisan masyarakat, maka dikembangkan upaya pelananan kesehatan yang memanfaatkan fasilitas kesehatan yang sudah ada dan merupakan ujung tombak dari sistem pelayanan kesehatan, yaitu Puskesmas. Di Puskesmas Seririt I, pelayanan kesehatan jiwa telah dikembangkan sejak tahun 2010, bersama dengan tenaga ahli kesehatan jiwa dari Rumah Sakit Jiwa Bangli.

Integrasi pelayanan kesehatan jiwa di pelayanan kesehatan dasar adalah pelayanan kesehatan jiwa yang dilaksanakan oleh dokter umum, perawat, bidan atau tenaga kesehatan lainnya di Puskesmas secara terintegrasi dengan pelayanan kesehatan dasar. Oleh karena itu, sembari dengan dilakukannya pemeriksaan fisik, juga dilakukan deteksi dini dan penanganan masalah kesehatan  jiwa. Selain pelayanan sehari-hari dalam pelayanan kesehatan dasar, di Puskesmas Seririt I juga dilakukan kunjungan dan pengobatan secara rutin setiap bulan oleh dokter ahli kejiwaan dari RS Jiwa Bangli. Program Kesehatan Jiwa Puskesmas Seririt I juga melakukan penyuluhan khusus kesehatan jiwa dan kunjungan rumah untuk pasien dengan gangguan kesehatan jiwa.

Berkaitan dengan program ini, tenaga kesehatan yang terspesialisasi dalam bidang kesehatan  jiwa bertindak sebagai konsultan dan pembina. Rumah Sakit Jiwa (RSJ) kemudian menjadi tempat rujukan bagi pasien yang sulit ditangani di pelayanan kesehatan dasar.

Upaya Kesehatan Mata

Masalah penglihatan tidak hanya merupakan masalah kesehatan atau medis, namun juga merupakan masalah sosial. Di Indonesia, telah dicanangkan Right to Sight 2020, sesuai dengan program Vision 2020 yang diterapkan oleh World Health Organization (WHO). Hal ini kemudian diwujukdan melalui kebijakan Penanggulanangan Gangguan Penglihatan dan Kebutaan (PGPK) di provinsi dan kabupaten/kota dengan fokus pada penyebab utama kebutaan, yaitu katarak, kelainan refrkais, glaukoma dan xeropththalmia.

Upaya kesehatan indera penglihatan di Puskesmas Seririt I merupakan salah satu upaya kesehatan berdasarkan kebijakan Penanggulanangan Gangguan Penglihatan dan Kebutaan (PGPK) Provinsi Bali. Demi mencapai tujuan “Mata Sehat 2020”, maka PGPK memiliki misi untuk melakukan promosi kesehatan untuk memberdayakan masyarakat, menanggulangi gangguan penglihatan dan kebutaan secara dini, memfasilitasi pemerataan pelayanan kesehatan mata yang bermutu dan terjangkau, dan menggalang kemitraan dengan masyarakat dan pihak terkait.

Kegiatan Pelayanan Kesehatan Indera Penglihatan di tingkat Puskesmas adalah sebagai berikut:


  1. Promotif: penyuluhan kesehatan indera penglihatan
  2. Preventif: deteksi dini/skrining gangguan penglihatan (katarak, glaukoma, xerophthalmia, kelainan refraksi)
  3. Kuratif: pelyanan kesehatan mata dasar dan rujukan
Penjaringan kesehatan mata pada siswa SMA


Program Gigi dan Mulut



Pelayanan Kesehatan gigi dan mulut :

  • Merupakan pelayanan kesehatan yang dilakukan oleh pelaksana pelayanan medik ataupun kesehatan yang berwenang dalam bidang kesehatan gigi dan mulut.
  • Dilaksanakan sendiri atau bersama menurut fungsinya masing-masing, guna mengantisipasi proses penyakit gigi dan mulut dan permasalahannya secara keseluruhan. 

Program pelayanan kesehatan gigi dan mulut di Puskesmas Seririt 1 tahun 2011, terdiri dari :

  • Pelayanan Kesehatan di dalam gedung
Berupa poliklinik gigi (pemeriksaan kesehatan gigi dan mulut, promotif, preventif, kuratif) 
  • Pelayanan Kesehatan di luar gedung

  1. UKGS (Usaha Kesehatan Gigi Sekolah) : penjaringan kesehatan di tingkat SD
  2. Posyandu plus  pelayanan gigi : penyuluhan dan pelayanan kesehatan gigi dan mulut u/ balita 
4 Kasus terbanyak di Poliklinik Gigi Puskesmas Seririt 1 tahun 2011 :

  1. Kelainan pulpa : pulpitis
  2. Kelainan periodontal : periodontitis
  3. Caries dentis : hiperemis pulpa
  4. Persistensi : pencabutan gigi anak

Pelaksanaan UKGS


Usaha Kesehatan Sekolah


Kesehatan sekolah diselenggarakan untuk meningkatkan kemampuan hidup sehat peserta didik dalam lingkungan hidup sehat sehingg peserta didik dapat belajar, tumbuh dan berkembang secara harmonis dan optimal sehingga diharapkan dapat menjadi sumber daya manusia yang berkualitas.

Tujuan UKS
Untuk meningkatkan mutu pendidikan dan prestasi belajar peserta didik dengan meningkatkan perilaku hidup bersih dan sehat serta derajat kesehatan peserta didik dan menciptakan lingkungan yang sehat, sehingga memungkinkan pertumbudan dan perkembangan yang harmonis dan optimal dalam rangka pembentukan manusia indonesia seutuhnya
Sasaran UKS
sasaran pembinaan dan pengembangan UKS pada usia dini meliputi:

  • Sasaran primer/langsung:

  1. Anak usia sekolah menurut tahapan proses tumbuh kembang
  2. Ibu dari anak usia sekolah

  • Sasaran sekunder/penunjang (unsur diluar sekolah yang mempunyai nilai strategis):

  1. Guru, kader kesehatan, pemuka masyarakat, tokoh agama, organisasi pemuda serta LSM)
  2. TP UKS di setiap jenjang.
Pendidikan Kesehatan

  1. integrasi penjaskes kedalam kegiatan belajar dan bermain
  2. adanya buku pegangan/bacaan pendidikan kesehatan
  3. guru membuat satuan kegiatan harian (SKH) dan satuan kegiatan mingguan (SKM)
  4. tersedianya alat peraga penjaskes
  5. memiliki media pendidikan kesehatan (poster, lieflet)
  6. memiliki guru pembina UKS
  7. adanya program kemitraan (puskesmas, kepolisian, pertanian, dll)

Pelayanan kesehatan

  1. Dilaksanakannya Penyuluhan Kesehatan
  2. Memiliki buku pegangan guru mengenai DDTK (Deteksi Dini Tumbuh Kembang Anak)
  3. Guru membuat Satuan Kegiatan Harian (SKH) dan Satuan Kegiatan Mingguan (SKM)
  4. Adanya pengukuran berat badan dan tinggi badan (setiap bulanya)
  5. Adanya pencatatan hasil pemeriksaan kesehatan anak pada buku kesehatan anak masing-masing (secara berkala minimal 6 bulan sekali)>>Pemeriksaan dan perawatan kesehatan gigi,kebersihan anggota badan dll
  6. Dilakukannya penjaringan kesehatan anak
  7. Adanya rujukan bila diperlukan
  8. Melaksanakan P3K dan P3P
  9. Pengawasan makanan yang dibawa anak/maupun yang ada di kantin/Dapur
  10. Dilakukannya penyuluhan kepada orang tua murid TK/Paud tentang kesehatan anak, makanan yang bergizi,sehat dan aman
  11. Dilakukannya tes kemampuan motorik

 Pembinaan Lingkungan Sekolah

  1. Adanya air bersih, tempat cuci tangan mengalir, WC/Jamban, tempat sampah, saluran pembuangan air kotoran berfungsi dengan baik
  2. Ada halaman bermain yang memadai serta aman, Memiliki pojok UKS
  3. Melakukan kegiatan 3M Plus, 1kali seminggu
  4. Memiliki pagar sekolah, penghijauan/perindangan,  kebun sekolah, Toga
  5. Memiliki ruang UKS tersendiri dengan perlalatan yang cukup
  6. Melaksanakan program sekolah kawasan tanpa rokok
Pemeriksaan tanda vital siswa SMP

Penjaringan kesehatan siswa SMP