Selamat Datang di Website Puskesmas Seririt I

Papan Nama Puskesmas

Memberikan pelayanan optimal, dengan motto : Senyum, Edukasi, Harmonis, .Aman, Taat, dan Indah

Halaman Puskesmas

Halaman depan Puskesmas yang cukup luas, dapat digunakan untuk tempat parkit pasien dan petugas.

Staff Puskesmas

Staff Puskesmas yang bekerja baik di pelayanan maupun operasional.

UGD Puskesmas

Suasana UGD saat pelayanan kesehatan.

Rapat Bulanan

Rapat rutin setiap bulan, bersama seluruh staff puskesmas, membahas semua permasalahan yang ada di Puskesmas.

Tampilkan postingan dengan label info kegiatan. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label info kegiatan. Tampilkan semua postingan

Senin, 06 Januari 2014

Minilokakarya Puskesmas Seririt I

 
Pada taggal 13 april 2013, seperti biasa yang dilakukan setiap bulan, Puskesmas Seririt I mengadakan minilokakarya yang bertempat di ruang pertemuan puskesmas. Acara dimulai tepat pukul 11.oo wita yang dipimpin langsung oleh kepala Puskesmas drg Juena. Pelaksanaan kegiatan rutin bulanan minilokakarya lintas program untuk periode bulan April ini berlangsung lebih spesial dari biasanya karena selain dihadiri oleh semua staf puskesmas, bidan-bidan desa dan  Perawat-perawat pustu di wilayah kerja Puskesmas Seririt I juga tampak hadir pula 5 (lima) dokter program internship. Agenda Mini Lokakarya kali ini selai membahas mengenai hasil rapat dari kabupaten, kecamatan dan berbagai kebijakan serta program juga dilaksanakan pemaparan hasil  mini project program Intership yang dipresentasikan oleh dr. Aditya.  Adapun Kegiatan yang diambil untuk mini project adalah Pelaksanaan Kelas Ibu Hamil (Antenatal Class ) yang telah dilaksanakan sebanyak 3 (tiga) kali pertemuan di Puskesmas Seririt I yaitu pada tgl 27 Januari, 2 Februari dan 8 Februari 2013.

Dalam pemaparannya, dr. Aditya menjelaskan bahwa latar belakang diadakannya kelas ibu hamil adalah terdapat disparitas antara cakupan dan target mengenai kunjungan ibu hamil K1/K4 di desa Tangguwisia, Pengastulan, dan Patemon serta Disparitas antara angka sasaran balita dan angka kunjungan balita di Puskesmas Seririt I dengan Target MTBS. Dari hasil evaluasi diketahui bahwa kegiatan yang dilaksanakan oleh 2 dokter internship berkolaborasi dengan bidan puskesmas dan bidan desa tersebut berlangsung dengan baik tanpa hambatan dengan member manfaat bagi penyuluh dan peserta.

 dr. I Gede karnaya sebagai Pembimbing atau pendamping dokter Internship berharap bahwa Kelas Ibu Hamil dapat dilaksanakan secara kontinyu tidak terbatas pada periode ini saja. Untuk itu perlu dukungan atau keterlibatan dari berbagai pihak yang terkait.

Rapat minilokakarya dilanjutkan dengan pembahasan beberapa program yang belum memenuhi target oleh karena berbagai hambatan yang dialami serta mengupayakan alternatif pemecahannya seperti masih rendahnya pencapaian ASi ekslusif. Terakhir drg Juena tidak lupa menekankan pentingnya kekompakan atau kerjasama antara petugas internal puskesmas serta hal-hal lain dalam peningkatan motivasi tugas seluruh staf puskesmas.

Jumat, 03 Januari 2014

Kegiatan IVA Al Ikhlas



Pada taggal 13 april 2013, seperti biasa yang dilakukan setiap bulan, Puskesmas Seririt I mengadakan minilokakarya yang bertempat di ruang pertemuan puskesmas. Acara dimulai tepat pukul 11.oo wita yang dipimpin langsung oleh kepala Puskesmas drg Juena. Pelaksanaan kegiatan rutin bulanan minilokakarya lintas program untuk periode bulan April ini berlangsung lebih spesial dari biasanya karena selain dihadiri oleh semua staf puskesmas, bidan-bidan desa dan  Perawat-perawat pustu di wilayah kerja Puskesmas Seririt I juga tampak hadir pula 5 (lima) dokter program internship. Agenda Mini Lokakarya kali ini selai membahas mengenai hasil rapat dari kabupaten, kecamatan dan berbagai kebijakan serta program juga dilaksanakan pemaparan hasil  mini project program Intership yang dipresentasikan oleh dr. Aditya.  Adapun Kegiatan yang diambil untuk mini project adalah Pelaksanaan Kelas Ibu Hamil (Antenatal Class ) yang telah dilaksanakan sebanyak 3 (tiga) kali pertemuan di Puskesmas Seririt I yaitu pada tgl 27 Januari, 2 Februari dan 8 Februari 2013.

Dalam pemaparannya, dr. Aditya menjelaskan bahwa latar belakang diadakannya kelas ibu hamil adalah terdapat disparitas antara cakupan dan target mengenai kunjungan ibu hamil K1/K4 di desa Tangguwisia, Pengastulan, dan Patemon serta Disparitas antara angka sasaran balita dan angka kunjungan balita di Puskesmas Seririt I dengan Target MTBS. Dari hasil evaluasi diketahui bahwa kegiatan yang dilaksanakan oleh 2 dokter internship berkolaborasi dengan bidan puskesmas dan bidan desa tersebut berlangsung dengan baik tanpa hambatan dengan member manfaat bagi penyuluh dan peserta.

 dr. I Gede karnaya sebagai Pembimbing atau pendamping dokter Internship berharap bahwa Kelas Ibu Hamil dapat dilaksanakan secara kontinyu tidak terbatas pada periode ini saja. Untuk itu perlu dukungan atau keterlibatan dari berbagai pihak yang terkait.

Rapat minilokakarya dilanjutkan dengan pembahasan beberapa program yang belum memenuhi target oleh karena berbagai hambatan yang dialami serta mengupayakan alternatif pemecahannya seperti masih rendahnya pencapaian ASi ekslusif. Terakhir drg Juena tidak lupa menekankan pentingnya kekompakan atau kerjasama antara petugas internal puskesmas serta hal-hal lain dalam peningkatan motivasi tugas seluruh staf puskesmas.

Kamis, 17 Januari 2013

Kelas Ibu Hamil

Kehamilan Lancar, Persalinan Aman


Pelayanan Antenatal Care (ANC) Puskesmas Seririt I kini semakin lengkap dengan diadakannya kelas ibu hamil. Kehamilan dan persalinan merupakan pengalaman yang unik bagi setiap perempuan yang mengalaminya. Banyak cara untuk mempersiapkan ibu hamil untuk menjalani proses yang cukup panjang ini; salah satunya adalah melalui kelas ibu hamil.

Kelas ibu hamil diadakan pertama kalinya di Puskesmas Seririt I pada tangal 21 Desember 2012. Kelas pertama ini diikuti oleh delapan ibu hamil dari berbagi daerah di wilayah kerja Puskesmas Seririt I, di antaranya adalah dari desa Kalianget, Patemon, Bubunan, Pengastulan dan Tangguwisia. Meskipun ditujukan bagi semua ibu hamil dari umur kehamilan 20 hingga 32 minggu, ibu-ibu yang berpartisipasi kali ini semuanya berada dalam trimester ketiga kehamilannya.

“Satu kelas terdiri dari tiga kali pertemuan,” jelas bidan Nengah Murtiasih, pemegang program Kesehatan Ibu dan Anak (KIA) yang sebelumnya telah menjalani pelatihan di Dinas Kesehatan terkait kelas ibu hamil ini. “Dalam kegiatannya, ada pretest, pembahasan materi, senam, dan posttest,” ia jelaskan lebih lanjut. Materi yang diberikan pun beragam, komprehensif, dan tentunya amat penting bagi ibu-ibu yang sedang mengalami kehamilan, terlebih jika merupakan kehamilan yang pertama. Selain memberikan pemahaman yang lebih dalam, materi dan diskusi yang dilakukan pun membantu memperjelas berbagai mitos yang beredar di masyarakat. Beberapa materi yang diberikan antara lain mengenai perubahan tubuh selama kehamilan, perawatan kehamilan, persalinan dan perawatan nifas, metode kontrasepsi pascapersalinan, dan lain-lain. Pada pertemuan pertama dan kedua kelas ibu hamil perdana ini, materi disampaikan oleh bidan Murtiasih sendiri, bersama bidan Made Mahyuni dan bidan Sophy Pramita.

Kelas baru bagi para ibu hamil dibuka setiap bulan dengan maksimal 10 orang peserta; diharapkan selanjutnya akan ada pula peserta dari desa Sulanyah dan Seririt. Melalui pengadaan kelas ibu hamil di Puskesmas Seririt I, diharapkan ke depannya para ibu hamil dalam lingkup Puskesmas ini akan memahami dengan baik berbagai hal penting terkait baik kehamilan maupun persalinan, agar keduanya dapat berjalan dengan lancar dan aman, dan buah hati pun terlahir dalam keadaan sehat.


ANC Terintegrasi

Demi Kesehatan Ibu Hamil yang Optimal


Antenatal Care (ANC) merupakan bagian yang wajib dilaksanakan oleh setiap Puskesmas melalui Program Kesehatan Ibu dan Anak (KIA). Jika sebelumnya pelayanan ini terfokus hanya pada pemeriksaan yang dilakukan oleh program KIA saja, kini ANC semakin diperluas melalui pemeriksaan lintas program yang terwujud dalam ANC terintegrasi.

“Jika dari pemeriksaan ditemukan adanya masalah, dilakukan pemeriksaan lintas program lebih lanjut sesuai dengan masalah yang ditemukan,” jelas bidan Nengah Murtiasih, pemegang program KIA di Puskesmas Seririt I. Ia pun menguraikan lebih lanjut bahwa seharusnya layanan ANC integrasi ini dilakukan secara rutin, jadi dilakukan untuk setiap ibu hamil yang datang untuk kontrol kehamilannya.

Dalam penerapannya, semua ibu hamil menjalani pemeriksaan yang berintegrasi dengan bagian laboratorium yang melakukan pemeriksaan hemoglobin (Hb), albumin dan protein urin. Selain itu, pemeriksaan lintas program lainnya dilakukan sesuai dengan keluhan atau hasil pemeriksaan yang ditemukan. Misalnya, jika seorang ibu hamil datang dengan gangguan pada giginya, maka dilakukan layanan terintegrasi dengan Program Kesehatan Gigi dan Mulut.

Salah satu komponen yang penting daripada layanan ANC terintegrasi adalah Prevention of Mother to Child Transmission (PMTCT), yaitu pencegahan penularan HIV dari ibu ke bayinya. Hal ini pun telah diupayakan sejak tahun 2012 dengan melakukan pemeriksaan lintas program dengan Klinik IMS/VCT di Puskesmas Seririt I yang melayani pemeriksaan HIV bagi para ibu hamil. Dengan demikian, dapat dilakukan deteksi dini dan pengambilan langkah-langkah yang sesuai untuk mengupayakan pencegahan penularan HIV dari ibu ke bayi yang dikandungnya seaindainya ibu hamil tersebut ditemukan terinfeksi HIV.
Dengan layanan ANC integrasi yang semakin lengkap di Puskesmas Seririt I ini, diharapkan para ibu hamil dan buah hatinya akan mencapai kesehatan yang optimal.

Deteksi Dini Infeksi Menular Sexual Melalui VCT Mobile

Langkah Awal Pencegahan AIDS


Infeksi Menular Sexual  (IMS) merupakan penyakit yang ditularkan melalui hubungan sexual. Aktivitas sexual yang melibatkan kontak antara kulit dan selaput lendir dari alat kelamin, mulut, maupun lubang anus akan memudahkan penyebaran berbagai mikroorganisme yang menyebabkan infeksi ini. IMS yang disebabkan oleh bakteri diantaranya, sifilis, gonore, infeksi klamidia, ulkus mole, limfogranuloma venereum, dan bakterial vaginosis. Selain bakteri, mikroorganisme lain yang bisa menyebabkan IMS adalah jamur (kandidiasis),  parasit (trikomoniasis, scabies), serta virus (HIV AIDS, Herpes Genital, dan Kondiloma akuminata. Infeksi HIV merupakan salah satu bentuk IMS yang paling eksklusif dengan keunikan hidup virus yang memiliki masa inkubasi yang lama, menyerang sistem kekebelan tubuh, bisa bereplikasi dan bermutasi di dalam tubuh sehingga sampai sekarang belum ada obat yang bisa membunuh virus ini. IMS lainnya gejalanya akan nampak lebih dahulu dibandingkan infeksi HIV, celakanya apabila IMS yang sudah terjadi tidak segera di obati hal ini bisa menjadi pintu masuk bagi virus HIV ke dalam tubuh. Apabila seseorang mengalami IMS maka akan terjadi reaksi radang, reaksi radang akan merangsang banyak keluarnya sel darah putih pada tempat yang mengalami peradangan tersebut, sel darah putih ini merupakan target sasaran dari HIV. Proses masuknya virus ini juga akan dipercepat apabila terjadi luka erosi pada permukaan kulit alat kelamin yang mengalami IMS seperti pada sifilis, gonore, ulkus mole, maupun scabies.

Melihat kenyataan semakin meningkatkan kasus AIDS di masyarakat, Departemen Kesehatan telah berupaya mendirikan klinik IMS pada beberapa pusat pelayanan kesehatan masyarakat agar bisa mendeteksi dan mengobati IMS secara dini pada pasien – pasien yang berobat di puskesmas tersebut. Dengan deteksi dan pengobatan IMS yang lebih dini diharapkan bisa mencegah terjadinya AIDS, tetapi sayangnya banyak masyarakat khususnya yang beresiko masih malu untuk datang langsung ke klinik ims tersebut untuk memeriksakan dirinya. Untuk menanggulangi masalah ini diperlukan kerjasama antara masyarakat, petugas kesehatan, penjabat daerah setempat, serta LSM khusus AIDS untuk membentuk suatu kegiatan Voluntary Counseling Testing (VCT) mobile yang terjun langsung ke lapangan  memeriksa kelompok masyarakat yang memiliki resiko tinggi. Kegiatan VCT mobile ini meliputi promosi kesehatan dengan memberikan penyuluhan mengenai penyebab dan gejala – gejala klinis IMS sehingga bisa menambah pengetahuan dan pemahaman mereka tetang IMS. Kemudian kegiatan dilanjutkan dengan pengambilan sampel apusan cairan kelamin dan darah untuk mendeteksi adanya mikroorganisme penyebab IMS dan pemeriksaan awal HIV. Hasil dari pemeriksaan VCT mobile ini sangat dijaga kerahasiaanya dan hanya akan disampaikan secara personal kepada yang bersangkutan, sehingga tidak perlu malu untuk terbuka dengan petugas kesehatan yang ikut dalam kegiatan ini. Penderita yang ditemukan terdiagnosis IMS harus disiplin minum obat untuk mencegah resistensi mikroorganisme penyebab IMS dan rutin kontrol sampai dinyatakan sembuh.  Selama proses pengobatan ini disarankan untuk melalukan hubungan sexual menggunakan pengaman untuk mencegah penularan kepada pasangannnya. Penderita yang ditemukan ternyata hasilnya reaktif pada pemeriksaan awal HIV akan diberikan konseling oleh seorang konselor VCT  yang nantinya juga bekerjasama dengan pihak LSM AIDS untuk penanganan selanjutnya. Jadi lebih baik mengetahui dan mengobati lebih dini gejala IMS sebelum terjadi AIDS.

 Oleh:
dr. Putu Indah Andriani,S.Ked
Dokter Internship Klinik IMS Puskesmas Seririt 1